Link Geo sangat baik jika ditampilkan melalui FIREFOX. Anda dapat mendownloadnya di SINI

Buku-buku pilihan


Masukkan Code ini K1-89F7C3-1
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Link-Geo Search Engine

Custom Search

Online Indonesian English Dictionary

Rabu, 02 September 2009

Borderless of disease dan kaitannya dengan Konservasi hayati

Pernah mendengar isu Borderless of disease ?

Bumi saat ini sedang dilanda issue terbaru dimana kini telah terjadi penyebaran penyakit secara global, tanpa mengenal batas wilayah lagi. Tahukah anda apa penyebabnya ? Banyak anggapan menyebutkan bahwa kemajuan tekhnologi dibidang transportasi sebagai biang kel adinya anggapan itu tentu sangat logis karena wabah penyakit mudah terbawa oleh penderita melalui transportasi yang ada.

Rentannya manusia terhadap wabah penyakit seperti AIDS, Ebola, Flu Burung, Swine flu dan masih banyak lagi kini memerlukan perhatian yang serius karena tidak ada lagi batasan bagi wabah-wabah tersebut. Ada beberapa istilah yang sangat berkaitan dengan Borderless of disease, yaitu:
  1. Pandemi yaitu terjadi bila virus menyebar ke hampir semua kawasan, misalnya Flu babi telah menjangkiti seluruh kawasan Asia.
  2. Endemi adalah menularnya virus dari hewan ke hewan dan dari hewan ke manusia
  3. Epidemi (dari bahasa Yunani epi- pada + demos rakyat) adalah penyakit yang timbul sebagai kasus baru pada suatu populasi tertentu manusia, dalam suatu periode waktu tertentu, dengan laju yang melampaui laju "ekspektasi" (dugaan), yang didasarkan pada pengalaman mutakhir. Dengan kata lain, epidemi adalah wabah yang terjadi secara lebih cepat daripada yang diduga.

Pencegahan Penyakit dengan Konservasi keanekaragaman hayati

Mencegah penyakit yang mewabah melalui konservasi keanekaragaman hayati lebih efektif daripada mengembangkan vaksin untuk melawannya.

"Keanekaragaman hayati tidak hanya menjanjikan hal baru pada perawatan dan penyembuhan medis, keanekaragaman hayati dapat menjaga manusia dari bentuk organisme-organisme dan agen yang menyebabkan wabah penyakit," pernyataan dari seorang peneliti dari Diversitas International Group, dikutip dari Reuters.

Gangguan manusia terhadap keanekaragaman hayati, mulai dari hutan Amazon di Benua Amerika sampai deforestasi di Benua Afrika, telah membuat manusia lebih rentan terhadap wabah penyakit baru, yang aslinya berasal dari margasatwa.

Peter Daszak, seorang peneliti yang membantu mencari hubungan antara Kelelawar Asia dengan virus SARS mengatakan bahwa, perjangkitan penyakit flu burung telah membuat kerugian sekitar 50 milyar dolar AS, besarnya angka tersebut karena penyakit tersebut mengurangi arus perdagangan dan perjalanan di Asia, Sekitar 800 orang meninggal akibat flu burung.

Penyakit AIDS ternyata diketahui berasal dari simpanse dan kini telah menewaskan sekitar 3.1 juta orang pada tahun 2004 dan PBB memperkirakan 15 milyar dolar AS akan sangat dibutuhkan untuk pencegahan dan perawatan penderita AIDS pada tahun 2006.

Daszak, yang juga merupakan Direktur Eksekutif dari konsorsium untuk konservasi ilmu kedokteran di Wildlife Trust mengatakan, "Penyakit yang mewabah menyebabkan krisis akan kesehatan publik".

Menurut para pakar tersebut, peran pemerintah dalam hal ini adalah membuat kebijakan yang melindungi keanekaragaman hayati, termasuk didalamnya peraturan yang jitu mengenai perdagangan, pertanian dan perjalanan untuk mengurangi kemungkinan persebaran penyakit flu burung yang bisa berpindah dari margasatwa ke manusia.

Pemeliharaan terhadap daerah yang lebih luas untuk margasatwa juga mampu mengurangi pengaruh dari penyakit.

"Kita tidak mengatakan bahwa kita harus mengisolasi alam dan menjauhi alam", kata Charles Perrings, seorang pakar keanekaragaman hayati di Universitas Arizona. Dia menekankan manusia sebaiknya mengurangi gangguan pada daerah yang kaya akan keanekaragaman hayati. Menurutnya memang pada sepanjang sejarahnya, penyakit menyebar dari margasatwa ke manusia, tetapi resiko tersebut semakin meningkat karena perilaku dari manusia dan peningkatan populasi manusia.

Anne Larigauderie, Direktur Ekskutif Diversitas, NGO yang berpusat di Paris ini mengatakan bahwa manusia terkadang kurang menghargai nilai dari pelayanan dan keragaman yang tersedia di alam, dan penghargaan tersebut baru ada dirasakan ketika pelayanan dan keragaman tersebut hilang.

Pay Per Click Indonesia

Adsense Indonesia Bye Myspace Comments
Loading...

Sumber-sumber bacaan dan unduhan

- http://langitselatan.com/, http://www.google.co.id/, http://id.wikipedia.org/wiki/Geografi, http://id.wikipedia.org/wiki/Tornado, http://rachmatwahidi.wordpress.com, http://andimanwno.wordpress.com, http://engineersblogs.blogspot.com, http://geo.ugm.ac.id/archives/100, http://www.e-dukasi.net/ untuk tujuan pembelajaran Geografi di kelas dan umum.

Bagi yang mau Upload File - Share File & Dapet Duit, Klik Banner di bawah